Skip to main content

Its not just verbally, its whole heartedly.


Mengapa kau tinggalkan kami wahai suamiku?” seru wanita itu penuh tanda tanyaLelaki itu Ibrahim a.s diam tidak menjawab. Ia hanya berhenti sejenak, menghela nafas dalam-dalam menahan esak. 
“Mengapa kau tinggalkan kami wahai suamiku?”Yang ditanya tetap lagi mendiamkan diri. Dalam hatinya berkecamuk sejuta rasa. Dia berasa sangat bersalah meninggalkan isteri dan putera yang dicintainya itu berseorangan di padang pasir penuh gersang. Dia yang menanti-nanti kelahiran buah hati berpuluh tahun lamanya. Dia yang melalui malam-malamnya dengan doa-doa, memohon agar ada tangis kecil yang memecah kesunyian rumahnya. 
Kini Allah telah memberikan anugerah itu Ismail. Dan kini, Allah tiba-tiba memintanya meninggalkan Ismail dan ibunya di tanah tidak berpenghidupan ini. Ia akan merasa sepi lagi. Ia akan dilanda khawatir tak bertepi. Tetapi apakan daya seorang hamba ? Dan mengapa harus dia berprasangka sebegitu pada Allah? Ya, ia redha dengan perintahnya. Hanya saja ia tidak sanggup menjawab pertanyaan isterinya itu, Siti Hajar. Hatinya gerimis. 
“Apakah ini perintah Allah?” Tiba-tiba wanita itu mengubah pertanyaannya.Ibrahim a.s terkejut. Ia berhenti sesaat lalu berbalik. Menatap wajah isteri dan anaknya itu dengan penuh rasa kasih dan sayang.”Ya” Katanya. Helaan nafasnya panjang dan berat. “Ini perintah Allah” 
Mereka berpelukan. “Kalau ini perintah Allah”, kata wanita solehah itu sambil berbisik di telinga suaminya, “Dia sesekali tidak akan pernah menyia-nyiakan kami”
Kisah Siti hajar dan Ibrahim a.s.


Begitulah ujian yang melanda khalilullah kita Ibrahim a.s sebelum terhasilnya kota mekah. Apabila Allah hendak menguji sayang kita kerana Dia, dengan rasa berat atau ringan, segeralah menyahut seruan itu. 
Sewaktu nabi ibrahim memperoleh nabi ismail a.s setelah penantian sekian lama, Allah segera memerintahkan nabi ismail a.s dan ibunya diletakkan di padang pasir.Dan sekali lagi Allah memerintahkan untuk menyembelih nabi ismail a.s dalam memastikan seluruh keuarga nabi ibrahim a.s bersungguh-sungguh dalam mencapai redhaNya. 
Tajarrudlah, peel off all those that are unrelated to Him, kerna hati yang bermaksiat masakan ada cahaya di dalamnya, yakni hidayah, dan hidayah itu milikNya.  
Ibaratnya, kita memberi coklat kepada sahabat kita, dan sahabat kita menyayangi pemberian itu, jauh lebih dari si pemberi, iaitu kita, terkilan kan? 
Begitulah Allah, cintaNya untuk hamba-hambaNya bersyukur, jadi apabila kita terlebih mencintai makhluk dari diriNya, kena do rechecking and balancing agar cinta itu kembali mekar, 
Cinta untuk Sang Pencipta.

Comments

Popular posts from this blog

down the memory lane[part 2]

I was helping my mum scanning her photos during her years in the US ,when I bumped into this photo of a friend of mine that I truly adore.
sharifah aiman al jafri syed ihsanoh yeah she's the one wearing the red scarf.sweet isn't she!!from left:aiman,irfan(her sis),maryam,me,aishah she's my age and we were together during primary school at SK Sura.Boy was that a long time ago and to think I'm about to start my uni years!!!She's now in England and after like more than half a decade not contacting her,we started contacting each other via email.I can't afford losing her again.The value of a friendship is indeed priceless!!

Berita besar

Di saat seorang ukhti datang dengan berita bakal melangsungkan bahtera perkahwinan, Tentunya hatinya diselebungi bahagia, gembira, ketenangan dan redha dengan aturan Allah,
Di saat yang sama, seorang ukhti lain datang dengan berita, bahtera perkahwinan tertangguh, si jejaka mengundur diri, katanya ingin mengalih fokus dari fikir tentang jodoh. Tentunya hatinya diselubungi hiba, kusut dan sedih dan paling penting, juga akur dengan caturan Allah.
Allahu T-T
Dua berita besar,  Berbeza watak, Berbeza perasaan.
Yg sama adalah,  Berpaksikan Allah.
Indahkan menjadi muslim yang sebenar-benarnya!

caca merba tulisan si penulis

I always act impulsively, be it planned or unplanned. Like when I'm writing this very moment, is unplanned business, I simply write what I feel, with a little bit of add ons and thus, my writings are ready to be publicized. macam masak mee segera je, campak-campak dan cepat masak. Its not that its wrong, only when its finished, its all over the place. cacamerba gitu.

I want it to be properly arranged, nicely put in words, explanations and analogies so that what is presented, is beneficial to everyone, especially to me who reads back my own writings.

emotions are to be publicized accordingly and kept accordingly.

May Allah preserve our writings, and we only write which is AlHaq.