Saturday, June 15, 2013

"You either write your own script, or you become an actor in somebody else's script." 
- Weapons of Mass Instruction

93 Million Miles



93 million miles from the Sun, people get ready get ready,
'cause here it comes it’s a light, a beautiful light, over the horizon into our eyes
Oh, my my how beautiful, oh my beautiful mother

She told me, "Son in life you’re gonna go far, and if you do it right you’ll love where you are

Just know, that wherever you go, you can always come back home"

240 thousand miles from the Moon, we’ve come a long way to belong here,

To share this view of the night, a glorious night, over the horizon is another bright sky
Oh, my my how beautiful, oh my irrefutable father,

He told me, "Son sometimes it may seem dark, but the absence of the light is a necessary part.

Just know, you’re never alone, you can always come back home"

Every road is a slippery slope

There is always a hand that you can hold on to.
Looking deeper through the telescope
You can see that your home’s inside of you.

Just know, that wherever you go, no you’re never alone, you will always get back home.


Its not just verbally, its whole heartedly.


Mengapa kau tinggalkan kami wahai suamiku?” seru wanita itu penuh tanda tanyaLelaki itu Ibrahim a.s diam tidak menjawab. Ia hanya berhenti sejenak, menghela nafas dalam-dalam menahan esak. 
“Mengapa kau tinggalkan kami wahai suamiku?”Yang ditanya tetap lagi mendiamkan diri. Dalam hatinya berkecamuk sejuta rasa. Dia berasa sangat bersalah meninggalkan isteri dan putera yang dicintainya itu berseorangan di padang pasir penuh gersang. Dia yang menanti-nanti kelahiran buah hati berpuluh tahun lamanya. Dia yang melalui malam-malamnya dengan doa-doa, memohon agar ada tangis kecil yang memecah kesunyian rumahnya. 
Kini Allah telah memberikan anugerah itu Ismail. Dan kini, Allah tiba-tiba memintanya meninggalkan Ismail dan ibunya di tanah tidak berpenghidupan ini. Ia akan merasa sepi lagi. Ia akan dilanda khawatir tak bertepi. Tetapi apakan daya seorang hamba ? Dan mengapa harus dia berprasangka sebegitu pada Allah? Ya, ia redha dengan perintahnya. Hanya saja ia tidak sanggup menjawab pertanyaan isterinya itu, Siti Hajar. Hatinya gerimis. 
“Apakah ini perintah Allah?” Tiba-tiba wanita itu mengubah pertanyaannya.Ibrahim a.s terkejut. Ia berhenti sesaat lalu berbalik. Menatap wajah isteri dan anaknya itu dengan penuh rasa kasih dan sayang.”Ya” Katanya. Helaan nafasnya panjang dan berat. “Ini perintah Allah” 
Mereka berpelukan. “Kalau ini perintah Allah”, kata wanita solehah itu sambil berbisik di telinga suaminya, “Dia sesekali tidak akan pernah menyia-nyiakan kami”
Kisah Siti hajar dan Ibrahim a.s.


Begitulah ujian yang melanda khalilullah kita Ibrahim a.s sebelum terhasilnya kota mekah. Apabila Allah hendak menguji sayang kita kerana Dia, dengan rasa berat atau ringan, segeralah menyahut seruan itu. 
Sewaktu nabi ibrahim memperoleh nabi ismail a.s setelah penantian sekian lama, Allah segera memerintahkan nabi ismail a.s dan ibunya diletakkan di padang pasir.Dan sekali lagi Allah memerintahkan untuk menyembelih nabi ismail a.s dalam memastikan seluruh keuarga nabi ibrahim a.s bersungguh-sungguh dalam mencapai redhaNya. 
Tajarrudlah, peel off all those that are unrelated to Him, kerna hati yang bermaksiat masakan ada cahaya di dalamnya, yakni hidayah, dan hidayah itu milikNya.  
Ibaratnya, kita memberi coklat kepada sahabat kita, dan sahabat kita menyayangi pemberian itu, jauh lebih dari si pemberi, iaitu kita, terkilan kan? 
Begitulah Allah, cintaNya untuk hamba-hambaNya bersyukur, jadi apabila kita terlebih mencintai makhluk dari diriNya, kena do rechecking and balancing agar cinta itu kembali mekar, 
Cinta untuk Sang Pencipta.
 “Terima kasih atas kesetiaanmu padaku di jalan yang penuh dengan kesulitan ini. Semoga Allah mempersatukan kita dalam kehidupan yang lebih indah di sisiNya”ucap khalifah umar abdul aziz, lembut sahaja menyapa, isterinya fatimah abdul malik.
Rumah adalah tempat lahirnya diri ini, usrah tempat kelahiran itu diberi erti
ustaz hasrizal

Wednesday, June 5, 2013

Ray ban ke rabun?

Mata melilau-lilau, melihat hiruk pikuk di tempat baru, kediaman baru, ibrahimeyya.

Yes indeed, I've moved to a new place, a new start, cuba menyahut seruan maratib amal itu sendiri. Dalam kita membina individu muslim, akan lebih dibantu pembinaanya dengan adanya kita dalam rumah islam. Rumah yang di dalamnya, hidup bi'ah solehah itu oleh mereka yang mempunyai ruh-ruh yang ingin di tarbiyyah.

But it ain't easy.

We have to bear the teeny weeny bit of emotions and feelings with every tadhiyah (sacrifice) that we make.

And for someone as impatient as I am, it was real hard at the beginning. And it will continuously remain hard for as long as I'm okay to withstand the pressure.

Dan saat itulah, kita perlu melihat dari sudut mata hati untuk cuba berlapang dada in almost every single thing happening around us.

Kadangkala, kita terus terus melihat, melontar pandangan ke hadapan dan sedaya upaya cuba mencari ibrah dalam setiap detik. Tapi kita lupa, kadang-kadang, mata kita penat melihat, pedih dari terus menerus mejegilkan biji mata hitam ini.

And it came out that, all we need was just to close our eyes, take a deep breath and exhale air peacefully.

Dek kerana kepenatan mata, kita lupa kita melihat dengan mata hati. Kerna perlu hadirnya hati terlebih dahulu untuk lihat melalui kaca mata hati.

To all specky user, we're in the same boat. Tak bermakna apabila berkaca mata, menghalang pandangan hati kita bukan?

Ish, mana ada,

Kita yang rabun inilah, yang merasakan apabila diberi peluang Allah, untuk melihat ciptaanNya, kita cuba bersyukur kerna hanya sedikit sahaja antara mereka yang bersyukur.

Cuba menjadi hamba bersyukur.

P/S I really miss debating although I'm not after all meant to be a debater, suddenly remembered a motion released during iium championship

This house believes that a debater should marry another debater,

sounds interesting right?


Sunday, June 2, 2013

Things are different now, I have to protect the one thing that I can't live without, that's you.
Iron Man 3